Why Liberal Islam is UnIslamic
http://www.understandingliberalislam.com/tiki-index.php
Understanding Liberal Islam
Shared by DiY at 9:44 PM 0 comments
Labels: Lessons
Events must not push us to edge of religion
“And from the people is he who worships Allah as if he were on an edge (i.e. in doubt): if good befalls him, he is content with it. And if a trial befalls him, he turns back on his face. He loses both this world and the Hereafter. That is the clear loss.” (Qur’an, 22:11)
Commenting on this verse, Ibn Kathir said in his Tafsir (3/279): Such a person enters the religion on an edge. So, if he finds what he likes, he sticks with it. Otherwise, he retreats. Al-Bukhari reported that Ibn Abbas said, “A man would come to Madina. If his wife gave birth to a son and his mare gave birth to foals, he would say, ‘This is a good religion.’
If his wife didn’t give birth and his mare didn’t either, he would say, ‘This is a terrible religion.’” Ibn Abbas also said, “Some bedouins would come to the Prophet and become Muslims and then they would return to their homelands.
If they returned to a year of rain, produce, and good children being born, they would say, ‘This religion of ours is good. So, stick to it.’ If they came back to a year of hunger, bad children being born, and drought, they would say, ‘There is no good in this religion of ours.’ So, Allah revealed this (the above) verse.”
Abdul Rahman Bin Zayd Bin Aslam said (about this verse): “This is with regard to the hypocrite. If everything is going well for him in his life, he is consistent in his worship.
If things change and go bad for him, he goes back and wavers in his worship, except when things are going good.
So, if a trial, hardship, test, or inconvenience befalls him, he abandons his religion and returns to kufr (disbelief).”
Diy : apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'kami telah beriman' sedang mereka tidak diuji lagi? -al-'Ankabuut:2
Shared by DiY at 1:23 AM 0 comments
Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur...
Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
1.Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
2.Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
3.Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
4.Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
5.Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
6.Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
1.Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
2.Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i
Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan
Shared by DiY at 12:31 AM 0 comments
Labels: Afterlife
“Do not get angry”
Abû Hurayrah relates that a man said to the Prophet (peace be upon him): “Counsel me.” The Prophet (peace be upon him) said: “Do not get angry.” The man repeated his request many times, but the Prophet (peace be upon him) kept saying: “Do not get angry.” [ Sahîh al-Bukhârî ]
The importance of this hadith:
The secret behind this hadīth's importance lies in the fact that the Prophet (peace be upon him) limited his counsel to this person in one short instruction: “Do not get angry.” Al-Nawawî informs us that Abû Muhammad `Abd Allah b. Abî Zayd said: “Everything that constitutes good manners can be derived from four hadith…” and mentioned among them the Prophet's statement “…to the one to whom he limited his counsel with: ‘Do not get angry'.”
This statement, given in this context, is rich in meaning. First, by limiting his counsel to this one short instruction, the Prophet (peace be upon us) indicates the importance of controlling one's anger, and that doing so has far-reaching implications for a person's welfare both in the worldly life and in the Hereafter.
Ibn Hajar, in his commentary on this hadith, observes:
The man stated his question repeatedly, hoping to solicit an answer that was more beneficial, or more explanatory, or more general; however he did not give him anything more than that.” [ Fath al-Bârî ]
Secondly, the categorical nature of this brief statement gives the prohibition sweeping implications – since it can be understood to indicate many things, for instance, that we should prevent ourselves from getting angry in the first place, and that we should forbid ourselves from acting according to the dictates of our anger in the event that we become angry.
The emotion of anger
Anger is a very powerful emot ion. It rages through a person, creating a desire for revenge and for striking out at the object of anger. Anger is an emotion that inspires action, and the action that it inspires is one of injury. The emotion of anger invokes within a person the very antithesis of mercy, compassion, self-restraint, and kindness.
This is what makes the emotion so dangerous. If left unchecked and uncontrolled, it is the emotion that can lead a person to the evilest of deeds and to the worst and most tragic consequences.
Prevention of anger
The statement “Do not get angry”, taken on its face value, is commanding us not to experience the emotion of anger at all. We know that this cannot be the intended meaning in an absolute sense, since it is an impossible instruction to uphold. Anger is a natural, human emotion. It is impossible for a person to avoid it absolutely.
Though this hadith may not be prohibiting us from ever experiencing the emotion of anger, it is, at the very least, advising us strongly to avoid that emotion as much as possible. And, indeed, there are measures that a person can take to limit his chances of getting angry. First, he can condition himself to remain cool-tempered. When a person's temper is under control, he is less likely to become angry when an occasion for anger arises, and more likely to control himself when he, in spite of himself, does become angry.
Another way that a person can limit his chances of getting angry is for him to know what causes anger and remove those causes from his life.
Among the chief causes of anger are pride and arrogance, since a prideful person is most easily offended and the most painfully stung by criticism. Another cause of anger is being argumentative. The more a person disputes with others, the less likely he is to accept the truth. His views become increasingly polarized and emotionally charged. A Muslim is, therefore, encouraged to avo id these negative character traits. In doing so, he will be less likely to get angry.
Self-restraint in anger
The statement “Do not get angry” can be understood in another way. Instead of commanding us not to experience the emotion of anger in our hearts, it is telling us not to act upon that emotion when we are beset by it. There is no doubt that this hadith is commanding us to, at the very least, exercise self-restraint when we feel angry. This much is obligatory upon us.
This meaning is clearly conveyed to us by many texts, some of which praise those who control themselves in anger. This implies that feeling anger is not always sinful or blameworthy in and of itself. Indeed, when a person conducts himself properly in anger, he is in fact doing something worthy of praise.
Allah describes the God-fearing as those who restrain themselves in anger. He says: “And hasten to forgiveness from your Lord and a garden whose width is that of the heavens and the Earth, prepared for the God-fearing. Who spend in times of ease and times of hardship and who restrain their anger and who pardon people. And Allah loves those who do good.” [ Sûrah `Âl `Imrân : 133-134]
He also says: “And what is with Allah is better and more enduring for those who believe and who rely upon their Lord. And those who avoid the major sins and indecencies, and when they become angry, they forgive.” [ Sûrah al-Shûrâ : 36-37]
The Prophet (peace be upon him) said: “The strong man is not the one who can throw another down. The strong man is the one who can keep hold of himself when he is angry.” [ Sahîh al-Bukhârî and Sahîh Muslim ]
We should seek refuge with Allah when we become angry. Two men began hurling insults at one another in the presence of the Prophet (peace be upon him), each one insulting the other with such anger that his face had turned red. Th e Prophet (peace be upon him) said: “I know a word that if one were to say it, what stresses him would go away. If he would but say: ‘I seek refuge with Allah from Satan the Accursed'.” [ Sahîh al-Bukhârî and Sahîh Muslim ]
The Prophet (peace be upon him) advised us not to speak when we are angry. He said: “If one of you gets angry, he should be quiet.” [ Musnad Ahmad ]
The Prophet (peace be upon him) gave us other practical advice. He said: “If one of you gets angry and he is standing, then he should sit down until his anger subsides. If it does not, then he should lie down.” [ Sunan Abî Dâwûd ]
He also said: “Anger is from Satan, and Satan was created from fire. Fire is but extinguished by water, so if one of you gets angry, he should perform wudû'.” [ Sûnan Abî Dâwûd and Musnad Ahmad ]
Righteous anger
We need to mention that not all anger is sinful. Anger that inspires a person to avenge his own personal feelings is indeed blameworthy. However, anger can also be felt for the sake of Allah and for His religion. This is the anger that a Muslim should feel when his religion is attacked, his beliefs blasphemed, and the honor and lives of the people are transgressed against. However, this anger, if it is truly and sincerely for Allah's sake, will only inspire us to noble deeds and to personal sacrifice, and never to base, unjust, or ignoble actions.
The Companions relate that the Prophet (peace be upon him) would never became angry for anything. However, if the sanctity of Allah was profaned, then nothing could assuage his anger.” [ Sahîh al-Bukhârî and Sahîh Muslim ]
The Prophet (peace be upon him) never acted angrily for personal reasons. He never once so much as raised his voice to his servants or his family. Anas relates that he worked as the Prophet's servant for ten yea rs, and not once did the Prophet (peace be upon him) so much as say “ uff ” to him, or ask him when he did something “Why did you do that?” or ask him when he neglected something: “Why didn't you do that?” [ Sahîh al-Bukhârî and Sahîh Muslim ]
The Companions relate: “The Prophet (peace be upon him) exhibited more shyness than a maiden in seclusion. If he saw something that he disliked, we would see it in his face.” [ Sahîh al-Bukhârî ]
Contact IslamAwareness@gmail.com for further information
Shared by DiY at 12:20 AM 0 comments
Labels: Anger, Self Control